UAN……
sekarang masa-masa yang paling kritis namun paling ditunggu oleh segenap siswa atau pelajar di sekolah. momen UAN yang mereka hadapi saat ini merupakan klimaks dari perjalanan persekolahan mereka selama tiga tahun. UAN akan menjadi sebuah tempat yang menilai apakah mereka layak melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi atau tidak. tetapi para siswa ini mungkin melupakan tujuan awal diselenggarakan UAN, yaitu menguji kemampuan mereka atas apa yang telah mereka pelajari di sekolah. mungkin kealpaan mereka juga akibat dari para guru, orang tua, bahkan pemerintah yang mengutamakan sebuah prestasi yang dicapai dari pada kemampuan mereka sendiri. selama tiga tahun mereka sekolah dan belajar apa saja yang telah mereka dapatkan? adakah orang-orang yang memperhatikan kemajuan/perkembangan mereka?
entahlah. yang pasti orang tua akan merasa bangga kalau anaknya lulus UAN dengan nilai yang tinggi. Guru akan merasa senang dengan banyaknya siswa yang lulus. Pemerintah akan merasa berprestasi ketika tingkat kelulusan siswa daerah mereka tinggi. tapi adakah yang memperhatikan kualitas kelulusan siswa ini?
mereka, para siswa, termasuk dalam kategori remaja. dan remaja sering dikatakan dalam sebuah proses pancaroba. mereka dalam proses mencari jatidiri. yang ada dalam benak mereka hanya lulus karena orang tua mereka mengharapkan mereka untuk lulus. tapi setelah lulus mereka mau jadi apa? mau kemana?
para orang tua, guru, dan pejabat pemerintah terkadang sering menanyakan cita-cita para siswa. “kamu mau jadi apa?” dan mereka menjawab “dokter”, “insinyur”, “arsitek” dan lain-lain profesi. ketika itu para orang tua, guru, dan pejabat pemerintah memberikan dorongan untuk mengejar cita-cita mereka. tapi hanya sekedar itu saja. tak banyak orang tua, guru, dan pemerintah yang betul-betul memperhatikan para siswa tadi. mereka yang menginginkan menjadi dokter namun tak pernah sekalipun diperkenalkan dengan ilmu kedokteran. maksud saya para siswa belajar biologi, kimia, dan lain-lain tapi hanya dalam teori. mereka hanya mengenal dari gambar-gambar tak bergerak dan kata kata “dingin” buku teks. apakah mereka puas? saya rasa tidak. akan tetapi mungkin dengan cara memperkenalkan mereka dengan bidang profesi yang akan mereka jalani sedikit demi sedikit mereka akan mempunyai keahlian dan tidak kagok dengannya.
ah jadi aneh…Uan (Ujian Akhir Nasional) ajang pemerintah mengetahui keberhasilan pendidikan di daerah tapi hasilnya menjadi ajang Asal Bapak Senang. tingginya tingkat kelulusan menjadi tolok ukur bagi pemerintah bahwa kurikulum yang dipakai telah berhasil meningkatkan kecerdasan masyarakat. daerah dengan tingkat kelulusan tertinggi tentu mendapatkan semacam penghargaan. dan siswa kembali menjadi korban dalam hal ini. mereka adalah alat.
itu kalo lulus kalau tidak? disini nampak bahwa mereka betul-betul alat. alat pemuas ego orang tua. banyak orang tua yang malu dengan ketidak lulusan anaknya. banyak caci dan luapan kemarahan yang akan diumbar. terkadang lebih parah lagi orang tua “menyuap” pihak sekolah agar terhindar dari rasa malu.
begitulah kita amat mementingkan hasil dari pada proses









