Ini Ujian atau Azab?
Hari ini gue menjadi gamang. Hati menjadi gemetar. Lutut tak kuasa menahan tubuh. Keadaan ini disebabkan oleh fitrah gue sebagai cowok yang mulai muak menjadi jomblo.
Cinta. Entah sejak kapan gue terobsesi dengan perasaan ini. Gue selalu mencari dan mencari cinta. Kebanyakan orang mengatakan cinta sulit didefinisikan, tapi tidak bagi Ibnu Qayyim Al-Jauzi. Dari beliau gue mengenal arti cinta sebenarnya. Beliau mengatakan bahwa cinta adalah perasaan seorang yang meliputi takut, harap, kasih, sayang, benci, suka yang saling bercampur terhadap yang ia cintai. Cinta memiliki takut karena orang yang mencintai takut kehilangan objek yang ia cintai, ia memiliki objek yang dicintai tersebut menghilang dari hadapannya. Cinta memiliki harap, karena si-pecinta mengharapkan balasan cintanya terhadap objek cintanya. Cinta memiliki kasih yang dengannya sipecinta berkorban apasaja dan bahkan melakukan hal yang berada diluar kemampuannya agar objek yang dicinta ridha padanya. Gue gak tahu bagaimana dalam menjelaskannya dengan baik. Kalau ada kesempatan lo, para pembaca, silahkan merujuk ke buku ustadz ini.
Ya gue telah merasakan cinta. Sebuah perasaan yang menyenangkan sekaligus menyakitkan. Menyenangkan karena dunia terasa indah dengannya. Sakit karena dunia gue dapat hancur seketika karenanya.
Gue mungkin orang yang masih kebingungan dalam memahami aplikasi cinta. Setiap dada merasa serrr… gue kira gue jatuh cinta. Namun gue merasa biasa aja setelahnya. Allah telah menyatakan bahwa “terasa indah oleh mata manusia apa-apa yang ia inginkan, wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, sawah, ladang, dan kuda-kuda..” Permasalahan gue hari ini adalah wanita.
Gue sadar bahwa yang telah disebutkan dalam Al-Quran adalah tentang diri gue semua. Dan gue mencoba agar gue dapat berhati-hati dalam bergaul dengan lawan jenis. Dalam sebuah hadist bahkan dikatakan mata adalah satu dari ribuan panah setan. Dan kini mata gue telah ditancap oleh panah setan.
Gue melihatnya sebagai seorang wanita yang cantik. Muslimah yang cantik. Dengan jilbabnya yang rapi, dengan pembatasan pergaulannya yang baik. Gue melihatnya sebagai akhwat yang luar biasa. Dari teman akrabnya gue diberi tahu bahwa ia anak yang supel, namun agak “liar” dibanding akhwat lainnya. Keliarannya kudapat dari bertahannya ia mendengarkan lagu-lagu barat yang menurut aturan di tempat kontrakannya dilarang. Dan dengan pengetahuan yang dangkal ini aku memutuskan gue menyukainya.
Tidak ada yang tahu akan perasaan gue terhadap wanita ini. Gue memendam semua perasaan gue. Hingga suatu ketika gue gak tahan lagi harus cerita. Dan dengan sebuah sms gue ceritakan padanya perasaan gue. Tak ada sms balasan. Alhamdulillah ujar gue. Kalo pun dibalas gue bakal bingung berbuat apa.
Gue lumayan sering terjebak dengan perangkap setan seperti ini. Dan gue punya sejarah pribadi yang membuat gue harus berpikir ribuan kali untuk betul-betul menyatakan cinta. Dan kini sejarah itu sepertinya akan terulang dengan chatting dengannya.
Wanita mulia itu chatting denganku hari ini. Ia hanya meminta agar gue mengobati kesuntukannya dan gue melakukan itu. Gue gak mengharapkan lebih. Akan tetapi entah apa yang ada dibenaknya, wanita itu menanyakan pasangan gue. Mungkin dia tidak tahu bahwa gue punya prinsip no pacaran sebelum merit. Gue jawab aja belum karena bab dari lahul mahfuz untuk walimahan belum terbuka. Gue kira pernyataan gue udah membuat dia tidak bertanya lagi. Akan tetapi perkiraan gue salah. Ia bertanya terus kenapa? kenapa? dan siapa? Pertanyaan yang kini membuat gue ingin menyatakan kembali kepadanya, “I HAD A CRUSH ON YOU”. Solusi yang gue ambil akhirnya berjanji mengirimkan kembali sms itu. Gue tahu hal itu buruk apalagi jika orang yang tidak menyukai pribadinya mengetahui.
Untuk itu gue akan menangguhkannya barang sebentar. Jika ia betul-betul ingin membaca sms tersebut kembali maka gue akan mengirimkannya.
Proses Hidup
Ngantuk banget rasanya. Badan ingin istirahat keknya, padahal jam di dinding baru menunjukkan pukul 14.30 waktu Padang Luar (Kek ospek aja ngasih waktu sekehendak hati). Mungkin bukan badan yang lelah secara sebagai seorang operator warnet (gile operator, kuli kalee…) dari jam delapan pagi tadi hingga saat ini mata gue selalu melototin monitor komputer. Mungkin kantuk yang gue rasa karena radiasi komputer. Kan banyak yang bilang tuh radiasi komputer berbahaya buat kesehatan mata.
Menjadi operator warnet sebenarnya mudah-mudah susah. Inget banyak mudahnya daripada susahnya. Kita tinggal duduk manis di depan komputer sembari melakukan pekerjaan yang kita inginkan. Main game boleh, browsing apalagi, mau nulis yo-i banget. Kalo ada user yang minta print, tinggal cari aja koneksi LAN printer trus suruh si user ngeprint sendiri. Santai kan? Yang menjadi masalah sebagai operator hanya problem koneksi yang kadang putus gak ketauan sebabnya. Ato komputer hang sedangkan si user belon nyimpan data. Jadilah saya berpanik ria untuk memberikan solusi atau menerima suara kesal dari user.
Mempunyai pekerjaan seperti ini emang pilihan gue dalam mengarungi samudera pengangguran. Untung aja dapat pekerjaan daripada nganggur yang membuat perasaan tertekan dan pusing sendiri.
Gue bukan tamatan Teknologi Informatika seperti om Suryo, gue cuman tamatan Sastra Inggris Universitas Negeri Padang (gimana tanggapan dosen-dosen gue ya kalau mereka tahu???), yang gue modalin buat kerjaan ini semangat ingin belajar: belajar surfing dengan aman, belajar membuat website (melalui blog sih), belajar memperbaiki komputer (baru sebatas install windows), belajar membuat aplikasi sederhana memakai MSAccess), dan kalau otak gue masih mampu belajar hacking.
Namun kesyukuran gue mendapatkan pekerjaan ini mendapat tertawaan dari keluarga gue sendiri. Mereka menganjurkan supaya gue buat les privat bahasa inggris aja di rumah. Pendapat yang bagus hanya satu kekurangannya yaitu gue masih malas ngajar. Gue gak pede ngajarin orang dan gue masih ragu dengan ilmu yang di otak gue (masih ngendap gak ya??). Yang paling parah dari adek gue yang nomor dua. Ia menertawakan gue “Masak S-1 jadi operator warnet sih?”. Sindiran beliau gak bakalan gue balas karena yang gue perlu sekarang adalah ilmu pengetahuan dan uang.
Picik seh kalau gue renungi keadaan gue hari ini. Tapi mo gimana lagi, gue gak mungkin ngandalin ortu buat biayain kebutuhan hidup gue setelah kuliah ini. Yang mesti gue kerjain adalah nikmati dulu kerjaan ini dan ngumpulin duit. Setelah itu gue bakalan ngejar sebuah obsesi. Kuliah s-2 di Susastra UI dan pulang ke UNP menjadi dosen.
Ya ALLAH Perkenankanlah









